Satupena Terbitkan Kembali 100 Buku Pilihan yang Mewarnai Indonesia Sejak Era Kolonial

Sabtu, 18 Desember 2021 15:36 WIB

Share

JAKARTA, RIAU.POSKOTA.CO.ID - Perkumpulan penulis Indonesia Satupena meluncurkan kembali enam buku lama di Jakarta, Kamis (16/12/2021). 

Enam buku ini merupakan bagian dari daftar 100 buku pilihan yang mewarnai Indonesia sejak era Kolonial yang telah dirilis pada Oktober lalu. 

Keenam buku yang diluncurkan itu berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang (RA Kartini), Salah Asuhan (Abdul Muis), Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisjahbana), Sitti Nurbaya (Marah Rusli), Azab dan Sengsara (Merari Siregar), dan Atheis (Achdiyat K Mihardja).

Di samping 6 buku tersebut, Satupena juga meluncurkan buku perdana Print on Demand karya Dr Satrio Arismunandar berjudul Perilaku Korupsi Elite Politik Indonesia. 

Ketua Umum Satupena Denny JA mengaku terinspirasi dengan kerja Library of Congres di Amerika Serikat yang menerbitkan kembali 88 buku yang membentuk Amerika Serikat. 

Ia juga terilhami oleh daftar 100 western canon books: daftar 100 buku yang mewarnai sejarah dunia barat.

"Indonesia perlu memiliki versinya sendiri atas 100 buku yang mewarnai Indonesia sejak era kolonial," kata Denny JA.

Denny menjelaskan, tim Satupena telah melakukan riset untuk menentukan 100 buku pilihan yang mewarnai Indonesia sejak era Kolonial. Buku paling tua yang dipilih terbit pada 1920, atau 100 tahun lalu. 

Denny JA mengutip Umberto Eco, novelis dari Italia yang menyatakan 'buku yang bagus itu adalah buku yang dibaca. Sebagus apapun sebuah buku, jika tak dibaca, bagusnya tak diketahui'. 

Penulis novel berjudul in The Name of The Rose itu mengatakan hal tersebut karena prihatin melihat minat membaca buku di negaranya semakin menurun. 

Halaman
Reporter: Husnul Qotimah
Editor: Husnul Qotimah
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar