Buat Paspor Modal Dokumen Palsu, WNA Asal Myanmar Ditangkap

Minggu, 26 Juni 2022 21:55 WIB

Share
Buat Paspor Modal Dokumen Palsu, WNA Asal Myanmar Ditangkap
WNA Asal Myanmar

PEKANBARU.RIAU.POSKOTA.CO.ID - Kantor Imigrasi Kelas II Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bagansiapiapi menahan terhadap seorang pencari suaka asal Myanmar inisial YNM karena telah melakukan tindak pidana keimigrasian, kemaren.

Tersangka tertangkap oleh petugas Imigrasi pada bagian loket penerimaan berkas permohonan Dokumen Perjalanan Republik Indonesia (DPRI/Paspor) karena dicurigai sebagai WNA yang akan membuat paspor.

"Kita berhasil mengamankan WNA Myanmar ini pada saat melakukan permohonan berkas Paspor," ungkap Kepala Kanwil Kemenkumham Riau, Mhd Jahari Sitepu, Minggu (26/6/2022).

Menurut dia, semua dokumen yang diserahkan WNA, mulai dari Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Akte Kelahiran dan Buku Nikah, tidak sah atau palsu. 

Sementara itu, data-data tersangka memiliki dokumen dikeluarkan oleh UNHCR Malaysia yang menyatakan bahwa yang bersangkutan merupakan pencari suaka asal Myanmar. 

Setelah dilaksanakan pemeriksaan terhadap tersangka dan saksi - saksi, terhadap yang bersangkutan dinaikkan status pemeriksaan menjadi penyidikan. 

Saat ini tersangka ditahan dan dititipkan di Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi selama 20 hari kedepan terhitung dari tanggal 23 Juni sampa 12 Juli mendatang. 

Dengan adanya kejadian ini, Kepala Kanwil Kemenkumham Riau berharap dan berpesan kepada seluruh imigran di Indonesia, terkhusus bagi pengungsi dan pencari suaka agar selalu bersikap baik dan mentaati seluruh aturan yang berlaku serta tidak membuat kegaduhan di negeri ini. 

"Kami sadari bahwa pengungsi dan pencari suaka yang ada di Riau ini sudah tidak sabar untuk dipindahkan ke negara ketiga. Ikuti saja aturannya, jangan coba-coba melawan hukum. Begini jadinya kalau melanggar, tersangka langsung kita pidanakan," terangnya.

Kepala Kanim Bagansiapiapi, Agus Susdamajanto, menambahkan bahwa pria Myanmar tersebut mulai ditahan pda 2 Juni 2022 karena telah memberikan data yang tidak sah atau keterangan tidak benar untuk memperoleh dokumen perjalanan Republik Indonesia. 

Halaman
Reporter: Helmi
Editor: Helmi
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar