Sepak Bola, dalam Cinta dan Ideologi, Oleh: Amir Machmud NS

Selasa, 6 Desember 2022 13:30 WIB

Share
Eric Cantona
Eric Cantona

RIAU.POSKOTA.CO.ID - Anda temukan apakah di balik wajah para pujangga sepak bola?

Terpancar aura loyalitas, jalan hidup, konfidensi, dan pilihan “cara”. Wajah-wajah yang memijarkan percik cahaya ide, ilmu pengetahuan, sikap, dan perilaku.

Begitulah ketika menyimak ekspresi dan gestur seorang Eric Cantona pada era 1990-an, yang oleh Sir Alex Ferguson sering dipanggil dengan sebutan “geniusku”.

“L’enfant terrrible”, dengan contoh perilaku tendangan kungfu ke suporter Crystal Palace yang legendaris itu, adalah orang yang mencintai sepak bola lebih dari apa pun. Dia mengekspresikannya dengan cara berbeda.

Katanya, “Saya mencoba menemukan cara berbeda untuk mengekspresikan diri. Tanpa itu, saya akan mati”.

Cantona menegaskan berhenti bermain sepak bola karena telah menemukan sebanyak yang dia bisa. Dia membutuhkan sesuatu yang mampu menggairahkannya, seperti halnya sepak bola membuatnya bersemangat.

Coba simaklah catatan Tony Robbins, dalam Awaken the Greatness Within tentang kompilasi pernyataan eksepsional para manusia sepak bola yang menginspirasi. Kadang kita menemukan narasi seperti quotation para filsuf, yang mengilustrasikan pandangan hidup yang mereka anut.

Sikap Cantona terasa sehaluan dengan pandangan Juergen Klopp. Pelatih Liverpool asal Jerman itu menyimpulkan, sepak bola terbaik selalu tentang ekspresi emosi.

Dia hadir sebagai “ideolog” gegenpressing, langgam bermain yang sukses didoktrinkan semasa menangani Bprussia Dortmund, dan belakangan menjadi brand Liverpool.

Daya hidup sepak bola dengan ekspresi rasa juga disampaikan oleh Lionel Andres Messi, pengoleksi tujuh trofi Ballon d’Or. “Anda bisa mengatasi berbagai masalah apa pun, Anda hanya cukup dengan mencintai sesuatu,” ucap La Pulga.

Halaman
Reporter: Husnul Qotimah
Editor: Husnul Qotimah
Sumber: Suarabaru.id
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar